SENOPATI
(SISTEM PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK TERPADU DAN TERINTEGRASI)
Permasalahan sampah di Indonesia semakin mendesak dan tidak lagi sekadar menjadi isu kebersihan, tetapi telah berkembang menjadi krisis nasional yang mengancam kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan, serta keberlanjutan pembangunan. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Presiden Republik Indonesia bahwa persoalan sampah merupakan isu strategis nasional yang harus ditangani secara serius, menyeluruh, dan terintegrasi. Berdasarkan data nasional tahun 2023, timbulan sampah di Indonesia mencapai sekitar 56,63 juta ton per tahun. Namun, sampah yang berhasil terkelola baru sekitar 39,01%, sementara lebih dari 60% sisanya masih belum tertangani secara optimal. Dari total timbulan tersebut, sekitar 60% merupakan sampah organik yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat. Akan tetapi, pengelolaannya belum berjalan maksimal karena masih sering terjadi pencampuran sampah sejak dari sumber.
Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di berbagai daerah. Beberapa kasus menunjukkan dampak serius akibat overload kapasitas TPA, seperti tragedi longsor TPA Leuwigajah tahun 2005 yang menewaskan 157 orang akibat sistem open dumping, kebakaran berulang di TPA Suwung Bali, hingga kondisi over kapasitas di TPA Kebon Kongok NTB. Pada tahun 2025, operasional TPA Kebon Kongok sempat ditutup sementara dan ritase pembuangan dibatasi akibat kondisi overload, sehingga menyebabkan penumpukan sampah di sejumlah titik di Kota Mataram dan Lombok Barat. Kondisi TPA yang melebihi kapasitas tidak hanya menimbulkan pencemaran lingkungan, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat serta memperlihatkan perlunya penguatan pengelolaan sampah dari sumber sesuai amanat UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah..
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, pemerintah mendorong penerapan pengelolaan sampah berbasis sumber melalui berbagai program, salah satunya Tempah Dedoro. Program ini juga telah diterapkan di RS H. Moh. Ruslan sebagai upaya mengurangi timbulan sampah yang dibuang ke TPS dan TPA. Namun, implementasinya belum dapat berjalan optimal karena keterbatasan lahan pengolahan di lingkungan rumah sakit, dimana sebagian besar area telah difungsikan untuk pelayanan kesehatan dan fasilitas penunjang. Untuk tetap mendukung pengurangan sampah organik, rumah sakit melakukan pengolahan menggunakan komposter. Akan tetapi, efektivitas pengolahan masih rendah karena sampah domestik masih sering tercampur sejak dari sumber. Di sisi lain, rendahnya kepatuhan dalam pemilahan sampah, belum tersedianya sistem pengendalian dan monitoring yang terukur, serta pelaporan yang belum real time menyebabkan pelaksanaan pengelolaan sampah organik belum berjalan secara konsisten dan berkelanjutan. Akibatnya, sampah organik masih berpotensi menumpuk di TPS rumah sakit, terutama saat terjadi pembatasan ritasi ke TPA Kebon Kongok.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa permasalahan pengelolaan sampah tidak hanya terletak pada aspek pengolahan, tetapi juga pada lemahnya sistem pengendalian, monitoring, dan pelaporan. Oleh karena itu, diperlukan perubahan pola pengelolaan sampah yang mampu mengintegrasikan aspek pengolahan, pengendalian, dan pelaporan dalam satu sistem yang lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan.
Berangkat dari kondisi tersebut dikembangkan SENOPATI (Strategi Pengolahan Sampah Organik Terpadu dan Terintegrasi) sebagai penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis sumber. Konsep SENOPATI mengintegrasikan tiga komponen utama, yaitu pengolahan, pengendalian, dan pelaporan dalam satu alur kerja yang saling terhubung.
Pengolahan dilakukan menggunakan BIOPOT, yaitu komposter vertikal multifungsi yang dirancang adaptif pada lahan terbatas. Sampah organik dari Instalasi Gizi, taman, dan unit pelayanan dipilah, dicacah, kemudian dimasukkan ke dalam BIOPOT dengan penambahan bioaktivator untuk mempercepat fase awal penguraian. Hasilnya berupa kompos padat, pupuk organik cair, dan tanaman produktif yang dapat dimanfaatkan kembali di lingkungan rumah sakit.
Selanjutnya, proses pemilahan diperkuat melalui SEHATI sebagai sistem monitoring kepatuhan pada setiap unit kerja, sedangkan seluruh data pengelolaan sampah dicatat melalui siWalet sehingga monitoring dan evaluasi dapat dilakukan secara digital dan real time.
Melalui integrasi tersebut, SENOPATI tidak hanya menghadirkan alat pengolah sampah, tetapi membangun ekosistem pengelolaan sampah yang menghubungkan aspek teknis, perubahan perilaku, dan tata kelola dalam satu sistem yang utuh. Pendekatan ini menjadikan pengelolaan sampah lebih efektif, meningkatkan kepatuhan, mengurangi timbulan sampah organik menuju TPA, menghasilkan produk bernilai guna, serta mudah direplikasi pada rumah sakit, instansi pemerintah, maupun masyarakat.
Mewujudkan sistem pengelolaan sampah organik berbasis sumber yang efektif, terintegrasi, dan berkelanjutan melalui penguatan aspek pengolahan, pengendalian, dan pelaporan sehingga mampu mengurangi timbulan sampah menuju TPA, meningkatkan kepatuhan pemilahan, menghasilkan produk yang bernilai guna, serta menjadi model inovasi yang mudah direplikasi pada rumah sakit, instansi pemerintah, dan masyarakat.
Adapun manfaat penerapan SENOPATI yaitu:
1. Mengurangi volume sampah organik menuju TPS dan TPA.
2. Meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah berbasis sumber.
3. Meningkatkan kepatuhan pemilahan sampah melalui sistem monitoring.
4. Mengurangi potensi bau dan vektor penyakit.
5. Menghasilkan kompos padat, pupuk organik cair, dan tanaman produktif.
6. Mengoptimalkan pemanfaatan lahan terbatas melalui BIOPOT.
7. Menyediakan data pengelolaan sampah yang terdokumentasi secara digital.
8. Mendukung penerapan ekonomi sirkular serta menjadi model inovasi yang mudah direplikasi.
Melalui inovasi SENOPATI, RSUD H. Moh. Ruslan berhasil mengubah pengelolaan sampah organik dari pendekatan kumpul–angkut–buang menjadi pengelolaan berbasis sumber yang terintegrasi. Implementasi inovasi meningkatkan kepatuhan pemilahan hingga >80%, menurunkan volume sampah organik menuju TPA sekitar 40–60%, mempercepat fase awal penguraian melalui BIOPOT dengan bantuan bioaktivator, serta menghasilkan kompos padat, pupuk organik cair, dan tanaman produktif. Integrasi BIOPOT, SEHATI, dan siWalet menjadikan proses pengolahan, pengendalian, dan pelaporan lebih efektif, terukur, dan terdokumentasi sehingga mudah direplikasi pada berbagai fasilitas pelayanan kesehatan maupun instansi lainnya.

Penulis : Fira Frismawati,ST

Jl. Bung Karno No. 3 Pagutan Raya, Mataram, Nusa Tenggara Barat
(0370) 640774
rsud_mataram@yahoo.com
© #SIMRS #RSUDKotaMataram All Rights Reserved. Edited by SIMRS