Artikel


MATARAM-Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram sukses melakukan evakuasi pasien penerbangan gagal ginjal, belum lama ini. Pasien gagal ginjal tersebut diterbangkan menuju rumah sakit di Semarang. RSUD Kota Mataram merupakan satu-satunya rumah sakit di NTB yang berhasil melakukan evakuasi pasien penerbangan.

Untuk mengevakuasi pasien penerbangan diperlukan sebuah tim medis penerbangan. Tim tersebut terdiri dari dokter penerbangan (SpKP), spesialis anestesi, dan flight nurse (perawat penerbangan). RSUD Kota Mataram belum memiliki flight nurse, namun rumah sakit ini memiliki banyak perawat yang sangat terlatih.

 

 

null

Dokter penerbangan RSUD Kota Mataram dr. Dasti Anditiarina, Sp.KP menuturkan, RSUD Kota Mataram melakukan evakuasi salah satu pasien gagal ginjal dari RS Siloam. Pihak keluarga pasien meminta dialih rawatkan pasien ke RSUD Kota Mataram. Saat itu kondisi pasien masih dalam keadaan tertidur.

Setelah dirawat selama dua hari, pasien mulai siuman. Pihak keluarga menginginkan perawatan yang lebih intensif. Kebetulan saat itu si pasien memiliki anak yang merupakan sejawat dokter di Jawa Tengah. Akhirnya pasien pun diputuskan untuk dievakuasi ker Rumah Sakit dr Kariadi di Semarang.

“Saat akan dievakuasi, pasien sudah bangun, hanya saja kondisinya tidak begitu stabil,”. Jelasnya.

Melihat kondisi pasien, evakuasi pada pasien tidak mungkin dilakukan melalui darat. Akhirnya pasien dievakuasi melalui pesawat. Sebelum melakukan evakuasi, tim medis penerbangan melakukan konsultasi terlebih dahulu. Sebab, memindahkan pasien dari bed ke bandara itu berbeda. “Lewat darat dan ketinggian itu berbeda,” sambungnya.

Tim medis penerbangan RSUD Kota Mataram melakukan briefing bersama pilot dan kru. Mereka harus memperhitungkan semua aspek untuk keselamatan pasien selama evakuasi. Seperti ukuran ketinggian terbang yang dilakukan pada ketinggian 25 ribu kaki. Hanya lebih rendah sedikit dari ketinggian asli penerbangan. “ini untuk meminimalisasi resiko,” akunya.

Banyak resiko yang harus diantisipasi selama evakuasi penerbangan. Seperti gagal nafas, saturasi turun. Kondisi pasien juga bisa dipengaruhi oleh vibrasi yang disebabkan turbulence pesawat meski di cuaca cerah.

Selama melakukan evakuasi, tim medis penerbangan RSUD Kota Mataram mengikutsertakan semua peralatan ICU dalam penerbangan, seperti tabung oksigen, infuse, monitor, ventilator, obat-obatan, dan lain-lainnya. Hal ini untuk mengantisipasi penindakan diatas pesawat. Selain itu, evakuasi pasien tidak hanya menggunakan keterangan medis namun juga hasil lab hingga tingkat mikro sirkulasinya. “ibaratnya seperti memindahkan isi ICU ke pesawat,” pungkasnya.

Pasien diterbangkan dalam kondisi tertidur dan disedasi (diberikan obat tidur). Ini merupakan penerbangan tim medis penerbangan RSUD Kota Mataram dengan menggunakan carter flight. Sebelumnya mereka sudah sering melakukannya di penerbangan komersial. Sebab itu, mereka sangat memperhatikan pasien hingga hal terkecil sekalipun.

“selain bawa pasien, kita juga bawa nama baik rumah sakit,” ungkapnya.

Ia menambahkan, evakuasi pasien sangat dikawal ketat hingga tujuan. Mulai dari bed RSUD Kota Mataram hingga bed RS dr Kariadi Semarang. Tak hanya itu, tim medis penerbangan juga mengawal antar penerbangan ke luar negeri (wing to wing). Disamping pelayanan evakuasi, dasti juga memperhatikan kesehatan penerbangan yang ia gunakan. Penerbangan tersebut harus benar – benar safety. “Keselamatan pasien nomor satu,” tandasnya. (fer/adv)

 

 

Sumber : Harian Lombok Post / 3 - 10 - 2017

  • Bagikan