Artikel


Diejek Dokter Gila, Gak Ngaruh

RSUD Kota Mataram telah menjelma menjadi salah satu rumah sakit terbaik di indonesia. Padahal usia rumah sakit ini masih cukup muda. Dibalik keberhasilan itu, ada sosok dr Lalu Herman Mahaputra

null

         Dr Jack, begitu ia karib disapa. Ia tercatat sebagai direktur pertama RSUD Kota Mataram. jabatan itu disandang hingga saat ini. RSUD ini dirintis sejak awal 2010 silam. Saat itu dr Jack yang menjabat Kasi Rumah Sakit di Dinas Kesehatan Kota Mataram dipanggil H. Moh. Ruslan, wali kota saat itu. Dia dimintai pendapat soal rencana pendirian RSUD Kota Mataram. Jack mendukung rencana sang walikota. Maret 2010, Jack ditarik dari Dikes Mataram dan diangkat menjadi Direktur RSUD Kota Mataram. saat itu tenaga kesehatan masih sangat minim. Sementara anggarannya hanya sebesar Rp 7 Miliar. Ruangan RSUD juga masih kosong melompong

‘sebenarnya saat itu belum siap karena belum memiliki tenaga yang terampil, paramedis maupun spesialis,’ ungkapnya.

         Saat itu hanya ada tiga dokter dan salah satunya merupakan istri dr Jack. Namun ditengah minimnya fasilitas dan tenaga tak membuat dr Jack putus semangat. Ia berfikir keras untuk bagaimana memajukan rumah sakit tersebut.

Akhirnya ia memiliki ide mengaktifkan IGD sebagai fasilitas utama. “Karena IGD masih bisa ditangani oleh dokter umum,” sambungnya.

         Dr Jack bukanlah orang yang senang dengan aturan yang kaku. Baginya yang terpenting adalah output kerja. Direktur mestinya bukan sekedar duduk manis dalam ruangan, namun harus memiliki sisi enterpreneur untuk memajukan rumah sakit.

         Masih di tahun 2010, dr Jack lantas mendatangkan konsultan. Namun sebelumnya ia telah berkonsultasi dan mendapatkan izin dari pimpinan daerah. Desember 2010, dr Jack akhirnya mendatangkan dokter dari luar NTB. Saat itu tidak berjalan mulus. Sempat terkendala perbedaan persepsi dengan Pemprov NTB, namun dia tetap melanjutkan ide tersebut. Pergaulannya tang luas sangat membantu dr Jack dalam membangun RSUD Kota Mataram. banyak temannya yang juga bekerja sebagai dokter membantu dr Jack mewujudkan semua ide kreatif dan inovasi untuk RSUD Kota Mataram. termasuk mendatangkan sejumlah dokter spesialis. Padahal bayaran dokter spesialis tidaklah murah.

“saat penetapan kelas saya sampai dibilang gila. Tapi ngapain pelit sama dokter spesialis, kan yang bayar negara,” tukasnya.

        Sarana RSUD Kota Mataram juga terus dilengkapi. Salah satunya mendatangkan Chamber. Alat modern ini didatangkan akibat adanya pengalaman buruk penanganan kasus post diving. Karena tidak adanya chamber, pasien tersebut harus dikirim ke bali. Namun terkendala penerbangan, pemberangkatannya tertunda yang pada akhirnya berujung pada kematian pasien tersebut.

“itu membekas pada diri saya, sehingga saya berupaya membangun chamber, alhamdulillah terwujud,” katanya lagi.

        Ia melanjutkan, pihaknya terus berinovasi agar masyarakat NTB tak perlu lagi berobat ke luar daerah. Kini RSUD Kota Mataram menjadi rumah sakit percontohan. Puluhan penghargaan diraih dan menjadi salah satu rumah sakit terbaik di indonesia.

“masih banyak inovasi – inovasi yang kita lakukan dan terus kita kembangkan,” pungkasnya.

       Jack menambahkan, dirinya tidak takut untuk bermimpi menembus ruang. Sebab jika tidak bermimpi tidak akan ada inovasi dan kreasi. Jika tidak tercapai pun berarti akan ada evaluasi untuk menjadi lebih baik.

“buktinya capaian PAD kita ke Bapenda tahun 2016 lalu Rp 100 Miliar dan tahun ini kita usahakan Rp 120 miliar.”

 

 

Sumber : FERIAL AYU / Lombok Post, 21/8/17

  • Bagikan